Your Time

Minggu, 23 Oktober 2011

Sukses Itu Sederhana

Sukses itu sederhana,
sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya, sukses itu tidak
serumit/serahasia seperti kata kiyosaki/tung desem waringin/the secret,
sukses itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah Kita.. karena kesuksesan
terbesar ada pada diri Kita sendiri...


Bagaimana Kita tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1
ovum, itu adalah sukses pertama Kita!
Bagaimana Kita bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat, itulah
kesuksesan Kita kedua...


Ketika Kita ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1, di saat tiap menit
ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP, itulah sukses Kita
ketiga...


Ketika Kita bisa bekerja di departemen keuangan, di saat 46
juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan Kita keempat...


Ketika Kita masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada 3 juta orang
mati kelaparan setiap bulannya itulah kesuksesan Kita yang kelima...


Ketika Kita masih bisa bermain dengan anak dan Suami/ Istri Kita,
di saat banyak orang yang lebih mementingkan pekerjaan dibanding keluarga
itulah kesuksesan Kita Ke enam...


Sukses terjadi setiap hari, Namun Kita tidak pernah menyadarinya. ..
Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa
terus-terusan jadi best seller dengan membuat sukses menjadi hal yang rumit
dan sukar didapatkan.. . Meskipun sebenarnya sukses itu sering didapatkan.


Sukses tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex,
pensiun muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya istri
cantik seperti Donald Trump & resort mewah di Karibia...


Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Kita sendiri, mengerjakan
apa yang Kita sukai kapan saja dan di mana saja....


Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,
sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan
Kita, pada saat Kita gembira, Kita gembira sepenuhnya, sedangkan pada saat
Kita sedih, Kita sedih sepenuhnya, setelah itu Kita sudah harus bersiap
lagi menghadapi episode baru lagi.


Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Tuhan, hidup baik, tidak menipu,
saleh & selalu rendah hati, Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan
ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit,
sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan  dan kekurangan
Kita apa adanya dengan penuh syukur.


Pernahkah Kita menyadari?
Kita sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang, uang hanyalah alat
tukar, Kita sebenarnya membeli rumah dari waktu Kita.


Ya, Kita mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun atau
beli mobil/motor kredit selama 3 tahun. Itu semua sebenarnya Kita dapatkan
dari membarter waktu Kita, Kita menjual waktu Kita dari pagi hingga malam
kepada penawar tertinggi untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan,
pulsa telepon dll...


Aset terbesar Kita bukanlah rumah/mobil Kita, tapi diri Kita sendiri, Itu
sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari orang
bodoh... Semakin berharga diri Kita, semakin mahal orang mau membeli waktu
Kita...


Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di
seminar bisa dibayar 200 juta atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa
mencapai 100 juta!!!


Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan
sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk
bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya, tapi karena produk
tsb dipakai oleh siapa...


Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan, bisa
terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama, bila
kita jual harganya justru malah turun...


Hidup ini kok lucu,
Lucu bila setelah Kita membaca tulisan di atas Namun Kita masih mengejar
fatamorgana tersebut ketimbang menghabiskan waktu Kita yang sangat berharga
untuk sungkem sama orang tua yang begitu mencintai Kita, memeluk hangat
pasangan hidup Kita, bercanda dengan anak kita, mengatakan "I love you"
kepada Keluarga yang Kita cintai.


Lakukanlah ini selagi Kita masih punya waktu, selagi Kita masih sempat,
Kita tidak pernah tahu kapan Kita akan meninggal, mungkin besok pagi,
mungkin nanti malam, LIFE is so SHORT.


RENUNGAN BESARNYA JASA IBU........SUDAHKAN ANDA BISA MEMBALAS JASA BELIAU

Setelah baca RENUNGAN  ini,..... anda pasti akan meneteskan air mata

Berapa besarkah kita sdh membalas kebaikan Ibunda tercinta.......??

JAWABNYA ...Tanyakan pada dirimu sendir...!!!

Kalau mau menangis menangislah........

Menangislash sekencang kencangnya ...

Agar lepas beban didalam dada....

Kalaulah itu bisa menentuk pintu hatimu

Segeralah SMS minta maaf ke Ibunda

Jika selama ini Anda telah melupakannya........



Sebar luaskan Renungan ini agar tiada lagi anak Durhaka dimuka Bumi



SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA YG TELAH LUPA SAMA ASI



RENUNGAN BESARNYA JASA IBU



Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ?

Sudah  pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i-l-a-n.

Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama  pun waktu yang harus dijalani, Tak  kenal  menyerah  demi  mendapatkan  satu kepastian dari seorang bidan:

p-o-s-i-t-i-f.

Meski  berat,  tak  ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali  benih dalam kandungannya.

Menangis,  tertawa, sedih dan bahagia tak  berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si  kecil di perutnya.

Seringkali  ia  bertanya  :  menangiskah  ia? Tertawakah  ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana?

Bahkan  ketika  waktunya  tiba,  tak  ada  yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika  itu  mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.

Rasa  sakit pun sirna, ketika mendengar  tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang  terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.



Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak.

Tak  satu  pun  tema  yang paling menarik untuk didiskusikan  bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Si  kecil  baru  saja  berucap  "Ma?"  segera  ia  mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar  telepon.

Saat  baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara  haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari   pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah

awal  kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak  terhenti rezekinya.

Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di  tengah jalan.



"Demi  anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di  pasar berbelanja keperluan si kecil.

Saat  ia  berada  di  pesta  seorang   kerabat atau keluarga dan membungkus

beberapa potong makanan dalam tissue.

Ia  selalu  mengingat  anaknya  dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.

Tak  jarang,  ia  urung  membeli  baju  untuk  dirinya sendiri dan berganti mengambil  baju untuk anak.

Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.

Meski  pun,  terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.



Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya.

Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak.

Nomor  urut  selanjutnya  baru  kebutuhan  yang  lain.  Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi  prioritasnya.

Bahkan,  tak  ada  beras  di  rumah pun tak mengapa, asalkan  susu si kecil tetap terbeli.

Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa  pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.



Ia  menjadi  guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak  pernah dibayar,  menjadi  pelayan yang sering terlupa dihargai, dan  menjadi babby sitter yang paling setia.

Sesekali  ia  menjelma  menjadi  puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.

Keesokannya  ia  rela  menjadi  kuda  yang  meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu.

Atau  ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi  kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit  lucu  yang  ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya.

Kantuk  dan  lelah  tak  lagi  dihiraukan,  walau  harus  menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura  si nenek sihir terjatuh dan  mati  sekadar  untuk  bisa  memejamkan mata  barang sedetik. Namun, si kecil  belum  juga terpejam dan memintanya  menceritakan dongeng ke sekian.

Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.



Tak  ada  yang  dilakukannya  di  setiap  pagi  sebelum  menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus.

Tak satu pun yang paling  ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak

tercinta.  Serta   merta  kalimat,  "sudah makan belum?" tak lupa terlontar

saat  baru  saja  memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia  timang  dalam  dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli  makan siangnya sendiri di kampus.



Hari  ketika  si  anak  yang  telah  dewasa  itu  mampu mengambil keputusan

terpenting   dalam   hidupnya,   untuk   menentukan   jalan  hidup  bersama

pasangannya,  siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu  menitikkan air  mata?  Lihatlah  sudut  matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan.

Ia  menangis  melihat  anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat  itu,  ia  pun  sadar,  buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan  cintanya  itu  tak  lagi  hanya  miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam  harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"



Saat  senja  tiba.  Ketika  keriput  di  tangan  dan  wajah mulai berbicara tentang  usianya.  Ia  pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir.

Hanya  satu  pinta  yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu  ingin  anak-anak  ibu  yang  memandikan.  Ibu  ingin dimandikan sambil dipangku kalian".

Tak hanya itu, imam shalat  jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya.

"Agar  tak  percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya.



Duh  ibu,  semoga  saya  bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya  tak  ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya.

Ibulah madrasah cinta saya,

Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta".

Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta".

Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

 
Ninja Kunai